Tak Perlu Sport Intelligence agar Olahraga Maju

| 0 comments

Mendengar pertanyaan itu, saya langsung menjawab, ''Kami punya banyak masalah. Di antaranya kedisiplinan. Banyak atlet kami yang berlatih serius hanya kalau diawasi pelatih. Tidak seperti atlet-atlet Anda yang sangat disiplin.'' Quan, yang menjadi wakil ketua kontingen Vietnam pada SEAG 2007, langsung menukas: ''Jangan salah. Atlet-atlet kami pun tidak disiplin. Tidak seperti yang mungkin Anda bayangkan.''


Pertengahan Januari lalu, anggota Komisi Sports for All Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Sumohadi Marsis, mengunjungi Brunei Darussalam. Kunjungan itu berkaitan dengan seminar dan persiapan Arafura Games 2009, yang akan berlangsung di Darwin, Nothern Territory, Australia.

Banyak hal yang diperolehnya selama tiga hari berada di negeri yang kaya raya dengan tambang-tambang minyaknya itu. Termasuk opini dari peserta seminar asal negara-negara jiran tentang olahraga Indonesia. Berikut catatannya.

********

Cukup banyak perubahan saat melihat lagi Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam, setelah kunjungan terakhir saat negara itu jadi tuan rumah pada SEA Games 1999. Selain lebih bersih, rapi, dan berkembang, jalan-jalan raya di dalam kota juga sudah lebih panjang. Bahkan, sebagian sudah berupa jalan layang dan terowongan yang lebar. Noktah di kawasan utara Kalimantan yang berpenduduk 372 ribu orang itu masih memancarkan kemegahannya melalui Istana Sultan Hassanah Bolkiah dengan 1.000 kamar di atas tanah 300 hektar yang dari luar tampak tidak banyak berubah.

Empire, sebuah hotel megah dan indah--''berbintang enam'', seperti diucapkan seorang pengurus olahraga negeri itu dengan rasa bangga--, telah berdiri di Pantai Jerudong, menghadap laut Cina Selatan. Di hotel itulah kami menginap dan berseminar untuk persiapan Arafura Games 2009 di Darwin, Australia.

Mereka yang diundang adalah para pemimpin kontingen negara-negara peserta Arafura Games 2007, yang telah diakui IOC (Komite Olimpiade Internasional) sebagai pesta olahraga kategori sports for all. Setingkat di bawah pesta-pesta olahraga antarbangsa dengan kategori high performance seperti Asian Games atau SEA Games.

Top of the Bottom

Pertemuan yang dihadiri utusan dari 15 negara dipimpin langsung oleh Menteri Olahraga dan Rekreasi Northern Territory, Matthew Bonson MLA. Acara pokoknya berlangsung singkat, hanya dua jam. Selebihnya dipakai untuk peninjauan, baik ke pusat-pusat olahraga, objek-objek wisata, maupun menghadiri jamuan makan dan koktail.

Kegiatan sehari penuh yang cukup melelahkan, tapi tentu saja juga cukup bermanfaat. Bahkan di antara serangkaian acara resmi maupun informal muncul sejumlah pertanyaan yang lumayan berharga untuk dibagi, baik pertanyaannya itu sendiri maupun dari jawabannya, karena bukan tentang Arafura Games, melainkan SEA Games.

Di antaranya, usai meninjau Stadium Negara Hassanal Bolkiah, saya bertanya kepada pembicara tunggal, Zafri Mohamed, doktor olahraga lulusan Australia yang bekerja di Kementerian Belia dan Sukan Brunei: ''Apa target puncak Brunei? Menjadi juara umum SEA Games?''

Pertanyaan itu rupanya mengejutkan sehingga Zafri sampai bertanya balik untuk meyakinkan dirinya. Kemudian dia memberikan jawaban tak panjang dalam nada rendah. ''Tidak, Pak. Kami tahu diri. Kami tidak punya ambisi sejauh itu. Cukup menjadi yang teratas dari yang bawah-bawah. Just top of the bottom,'' katanya.

Meski kaya raya dan sudah banyak membangun sarana olahraga baru, Brunei menyadari keterbatasan sumber daya manusianya sehingga tidak ingin mematok sasaran ambisius. Tapi, baik Zafri maupun para petinggi olahraga Brunei lain memastikan mereka siap menjadi tuan rumah SEA Games 2015 setelah Indonesia 2011 dan Singapura 2013 sekaligus berharap menjadi tuan rumah yang lebih baik dibanding SEAG 1999.

Soeharto dan Olahraga

| 0 comments

Bukan karena latah jika kali ini saya menurunkan tulisan seputar Soeharto. Memang pemicunya tentu karena tokoh nomor satu rezim Orde Baru itu tengah tergolek lemah menderita sakit.

Berbagai polemik politik mewarnai tersingkirnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Tudingan korupsi yang menyengsarakan rakyat pun merebak. Tuntutan hukum dan hujatan dari lawan politik membuatnya terpojok sebagai pesakitan.

Benarkah Soeharto koruptor kotor? Benarkah presiden kedua Republik Indonesia ini menumpuk kekayaan hingga tujuh turunan? Mungkinkah ia menyingkirkan lawan politiknya dengan tindakan kriminal?

Hingga hari ini, sebagaimana pembaca ketahui, tidak ada satu pun dugaan itu terbukti. Kenapa? Karena belum ada kata akhir dari meja hijau ditinjau dari sudut hukum. Semua masih berada di wilayah abu-abu.

Seperti apa akhir kisah Panglima Besar Indonesia ini, kita sama-sama tak memiliki jawaban. Sebagai tokoh besar yang memegang tampuk kekuasaan selama 32 tahun, tentu banyak ragam cara menilainya. Ada yang pro dan tidak sedikit yang menempatkannya sebagai musuh bangsa.

Saya menghindar dari pergulatan dan pertengkaran politik. Biar bagaimanapun, idiom yang menyebutkan bahwa panggung politik tidak mengenal teman abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.

*****

Pembaca, saya tidak tahu apa kali ini kita memiliki kesamaan pandangan. Dalam konteks olahraga, menurut saya Soeharto adalah tokoh yang pantas ditempatkan pada posisi terdepan.

Lepaskan dulu dari pikiran bahwa kepeduliannya membangun olahraga mengandung agenda politik dan kepentingan pribadi atau tidak. Yang jelas, saat Soeharto memegang tongkat Presiden RI, prestasi olahraga Indonesia sangat menonjol.

Keberhasilan kita dapat dibuktikan lewat dominasi atlet-atlet nasional di arena Asia Tenggara. Di era Soeharto, Indonesia berpartisipasi dalam pesta olahraga dua tahunan bernama SEAP (Southeast Asian Peninsular) Games. Setelah kita masuk, nama SEAP berubah menjadi SEA Games sejak tahun 1977.

Hebat. Pertama kali berpartisipasi, Indonesia langsung berada pada posisi terdepan dalam urusan pengumpulan medali menggeser dominasi Thailand. Demikianlah sukses itu terus berlanjutnya.

Periode kepemimpinan Soeharto tercatat Indonesia 11 kali ambil bagian sejak 1977 hingga 1997. Hanya dua kali posisi nomor wahid diganggu Thailand saat Negeri Gajah Putih itu menjadi tuan rumah pada 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai.

Pergesekan politik merebak. Soeharto lengser dari kursi presiden. Era Reformasi datang menggantikan Orde Baru. Perekonomian, keamanan, budaya, politik, hingga olahraga hancur. Kegagahan atlet Indonesia di panggung internasional terjun bebas.

Bukti kemerosotan prestasi itu terlukis tatkala posisi Indonesia langsung tergeser ke posisi ketiga pada SEA Games Brunei 1999. Dua tahun berikutnya di Kuala Lumpur, posisi kita merosot lagi ke urutan ke-4 dan itu berulang di Hanoi 2003. Rekor terburuk tercipta di Manila 2005 dengan posisi ke-5.

Ternyata keinginan menjadi lebih baik dari yang sudah-sudah hanyalah retorika. Energi dan dana tersedot dan melayang ke wilayah yang tak dapat dilukiskan. Perebutan kekuaasaan elite politik mengakibatkan perhatian di bidang olahraga semakin jauh. Alhasil, prestasi atlet remuk karena kurang perhatian dari pemerintah.

Setelah era Soeharto, tercatat empat presiden pengganti, yaitu B.J. Habibi, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang lebih menyakitkan adalah hilangnya Kementerian Olahraga saat Gus Dur dan Megawati menjadi presiden.

Setelah SBY tampil sebagai orang nomor satu negeri, kepedulian akan prestasi olahraga mulai mendapat perhatian kembali. Kementerian Olahraga dihidupkan dengan Adhyaksa Dault ditunjuk sebagai menteri. Ada perbaikan, tapi belum dapat disebutkan sudah berhasil mengembalikan pamor Indonesia ke tempat yang dulu menjadi langganan juara.

*****

Prestasi olahraga tak mungkin dapat berkembang pesat jika tidak ditunjang dengan dana memadai. Namun, apalah artinya dana jika tidak ditopang political will dari pemerintah.

Kepedulian dan dukungan pemerintah itu terbukti efektif seperti dilakonkan Soeharto. Slogan ''Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat'' diangkat menjadi tema dan menetapkan 9 September menjadi Hari Olahraga Nasional, yang dicetuskan pada 1983.

Momentum seperti ini membawa dampak sangat positif. Hampir seluruh lapisan masyarakat dan kantor-kantor pemerintah tergerak untuk turut ambil bagian. Gerakan serempak dan menjadi gerakan nasional ini semakin mematri dominasi Indonesia di Asia Tenggara.

Pemerintahan terkini di bawah Presiden SBY mencoba membangkitkan semangat yang sempat kendor. Langkah itu dimulai dengan keluarnya Undang-Undang Keolahragaan yang diyakini sebagai jembatan untuk menyeberang ke lahan subur.

Memandang Soeharto memang tidak bisa secara hitam putih. Namun, bagi masyarakat olahraga, tokoh yang suka bermain golf itu setidaknya meninggalkan legacy bagaimana membuat citra Indonesia harum lewat gerbang olahraga.

Mampukah SBY mengatrol prestasi Indonesia kembali ke posisi terhormat? Berat memang, tapi itulah amanah!

ian@bolanews.com